Novel Pangeran Diponegoro karya Remy Sylado

Apa pun yang ditulis Remy Sylado saya suka. Sebab, manusia serba bisa ini menulis berdasar riset, bacaan, dan pengetahuan yang sangat lengkap. Referensinya sulit ditandingi penulis mana pun di Indonesia. 

Sungguh! Saya selalu ternganga-nganga membaca tulisan-tulisan Remy Sylado yang informatif. Selalu membuka wawasan pembaca. Salah satu kehebatan Remy Sylado adalah menghidupkan kata-kata arkaik. Menciptakan kata-kata baru. Atau, memberdayakan kata-kata di kamus yang selama ini tidak pernah dipakai.

Risikonya, kita kadang-kadang tak segera menangkap maksud Remy Sylado. Buka kamus bahasa Indonesia belum tentu ada. Sebab, kata-kata itu dipungut Remy dari bahasa Sansekerta, Jawa, Sunda, Manado, Tionghoa, Betawi, Ambon, dan seterusnya. Hanya pendekar pilih tanding yang bisa bersilat kata dengan cara luar biasa macam Remy Sylado.

Nah, saya baru saja menyelesaikan novel PANGERAN DIPONEGORO karya Remy Sylado. Tebal 435 halaman, penerbit Tiga Serangkai, Solo, cetak pertama Maret 2008. Jelas ini novel sejarah. Bercerita tentang lika-liku pergolakan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pada 1825-1830. Perang Jawa ini sempat membuat Belanda PUKIMAK (ah, ini istilah Remy Sylado yang dipetik dari makian ala Indonesia Timur) mengalami kerugian luar biasa.

Saya baca di Kompas Minggu, 20 April 2008, bahwa novel ini hanyalah pembuka dari tujuh seri Pangeran Diponegoro yang sedang disiapkan Remy Sylado. Artinya, ceritanya bakal sangat panjang dan detail. Dan memang novel yang baru saya baca ini baru sebatas geger awal menjelang perang.

Pasukan Belanda PUKIMAK [istilah Remy] meneror Puri Tegalrejo sehingga sang pangeran meminta istrinya, Ratnaninsih, serta anak-anaknya mengungsi ke Selarong. Usia Pangeran Diponegoro baru menginjak 40. Saya belum bisa membayangkan detail-detail cerita Pangeran Diponegoro versi Remy Sylado bakal seperti apa nantinya.

Kita, orang Indonesia, niscaya pernah mendengar cerita Perang Diponegoro melalui buku-buku sejarah. Mulai sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, cerita kepahlawanan Diponegoro alias Ontowiryo. Perangnya hanya lima tahun, tapi Belanda pukimak yang korup, gelojoh, dan takabur itu benar-benar kewalahan. Namanya juga pengarang, Remy Sylado hanya bertugas memberi daging pada cerita, kasih bumbu, komentar di sana-sini, sehingga enak dinikmati.

Bagi saya, sekali lagi, membaca tulisan-tulisan Remy Sylado berarti bertamasya dengan bahasa, kata-kata baru, sejarah musik, sejarah gereja, kebudayaan, Tionghoa, dan macam-macam lagi. Remy sengaja memberi peluang sedemikian rupa agar bisa memasukkan pengetahuan-pengetahuannya ke dalam cerita.

Dialog para tokoh sangat hidup karena dilakukan dalam bahasa aslinya. Orang Belanda omong Belanda, Jawa bicara bahasa Jawa ngaka sampai krama inggil, Tionghoa dengan Melayu cadelnya, kaki tangan Raffles yang Inggris bicara bahasa Inggris. Kutipan Alquran dan istilah-istilah Arab pun otentik. Luar biasa! Ini hanya bisa dilakukan Remy Sylado yang setahu saya menguasai belasan bahasa dunia secara aktif dan pasif.

Karena menceritakan Pangeran Diponegoro yang hendak menikah, Pak Remy memberikan tempat luas pada pernak-pernik adat pengantin Jawa. Juga kepercayaan lama di desa-desa seperti tertuang dalam primbon. Hari baik dan buruk dipaparkan secara gamblang.

Bahkan, ada pula mucikari bernama Rietje van den Berg, pelacur terkenal pada zaman Deandels. Bisnis maksiat Rietje terletak di Pakemweg [sekarang Jalan Simajuntak], 100 meter dari simpang Gondolayu [sekarang Jalan Sudirman], sebelah kanan jalan dari arah Kaliurang. Wah, detailnya luar biasa! Sama dengan kompleks pelacuran di Surabaya tempo doeloe yang digambarkan Remy Sylado di novel KEMBAN JEPUN.

Pelacur yang dikelola Mami Rietje ada enam orang. Mau tahu nama-namanya? Agnes, Monica, Cornelia, Agatha, Olga, Lydia [halaman 299]. Kok mirip nama bintang film terkenal ya? Hehehe… ada-ada saja Pak Remy Sylado alias Japi Tambajong ini. “Dalam urusan syahwat aku yang paling berkuasa atas diri penguasa itu Smissaert,” hardik Mami Rietje kepada para begundal penguasa tertinggi Jogjakarta masa itu.

Begitulah. Bumbu-bumbu, komentar, akrobat pengetahuan sejarah dan bahasa sangat banyak dijumpai di novel ini. Bagi pembaca yang ingin tahu jalannya cerita, jelas bumbunya kebanyakan. Cerita yang seharusnya bisa disingkat glambyar ke mana-mana. Tapi, bagi saya, yang sudah tahu karakter Remy Sylado, novel ini sangat asyik.

NB: Novel panjang ini, juga buku-buku serta artikel-artikel Remy Sylado yang unik dan bernas itu, ternyata ditulis pakai mesin ketik biasa. Tak-tik-tak-tik-tak-tik! Sementara saya dan [mungkin] engkau yang sudah bertahun-tahun pakai komputer, lihat internet tiap hari, justru belum bisa menulis sebuah buku pun.

Malu ah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s